<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Yoenea's Blog</title>
	<atom:link href="http://yoenea.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://yoenea.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 27 Apr 2009 09:50:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='yoenea.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Yoenea's Blog</title>
		<link>http://yoenea.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://yoenea.wordpress.com/osd.xml" title="Yoenea&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://yoenea.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Negeri yang Penuh Tangis, Bangsa yang Penuh Harap</title>
		<link>http://yoenea.wordpress.com/2009/04/27/negeri-yang-penuh-tangis-bangsa-yang-penuh-harap/</link>
		<comments>http://yoenea.wordpress.com/2009/04/27/negeri-yang-penuh-tangis-bangsa-yang-penuh-harap/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2009 09:39:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yoenea</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yoenea.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Hidup berbangsa jauh lebih baik dari bernegara yang di dalamnya hanya menguntungkan kelas sosial yang memiliki relasi dengan kekuasaan. Negeri yang tak lagi Permai Hari-hari di negeri ini tidak lagi permai. Tenang, tentram dan bersahabat adalah murni janji surgawi yang tak kunjung membumi. Semua ribut, terutama elit politik, baik tingkat nasional maupun lokal. Di samping [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yoenea.wordpress.com&amp;blog=7441631&amp;post=17&amp;subd=yoenea&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><em>Hidup berbangsa jauh lebih baik dari bernegara yang di dalamnya<br />
hanya menguntungkan kelas sosial yang memiliki relasi dengan kekuasaan.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Negeri yang tak lagi Permai</strong><br />
Hari-hari di negeri ini tidak lagi permai. Tenang, tentram dan bersahabat adalah murni janji surgawi yang tak kunjung membumi. Semua ribut, terutama elit politik, baik tingkat nasional maupun lokal. Di samping itu, media massa, terutama televisi menambah keributan dengan aneka cara yang terkadang memporak-porandakan struktur berpikir masyarakat Indonesia yang belum mapan. Walaupun ada program-program yang membagun, tapi kalah rating dari tayangan-tayangan yang penuh dengan nada manja dan puja-puji harta sekaligus tahta.<br />
Pendek kata, media bukan menjadi alat pengembangan pengetahuan dan kematangan sosial, melainkan meninabobokkan masyarakat, terutama kalangan akar rumput (grass root) pada kondisi kehidupan yang amat jauh dari keadaan yang sebenarnya (hipper reality). Sekali lagi, media telah memanipulasi kondisi terpuruk di setiap lini kehidupan saat ini sebagai bagian dari kodrat Tuhan.<br />
Almarhum Pramoedya dalam roman Bumi Manusia pernah mengatakan, selagi hidup di bawah atap langit, segala persoalan adalah hasil rekayasa manusia, jadi di tangan manusia lah persoalan itu diselesaikan.Karl Marx pun pernah berujar, kehidupan itu harus bertindak, bukan sebatas memikirkan gejala alam yang tidak ada kaitannya dengan perubahan masyarakat. “Manusia harus berpikir keras dan segera bertindak dengan segala cara yang terhormat”, begitu kata Nyai Ontosoroh dalam roman kedua dari tetralogi pulau buru: Anak Semua Bangsa.<br />
<span id="more-17"></span><strong>Patung dan Burung pun Mencibir</strong><br />
Puluhan patung di negeri ini, baik itu pahlawan atau masyarakat biasa telah mencibir perilaku anak manusia Indonesia saat ini yang tak segan-segan saling sikut-sikutan, ngotot-ngototan, mengkambinghitamkan lawan, bahkan tak jarang bunuh-bunuhan. Meminjam istilah Jendral fiktif dalam film Naga Bonar 2 karya Dedi Mizwar,” Jendral, turunkan tanganmu, apa yang harus kau hormati, sedangkan mereka tidak pernah menghormatimu”. Burung-burung pun tidak ketinggalan mencemo’oh laku kehidupan modern anak manusia saat ini. Setiap hari mereka (burung) berterbangan dari satu pohon ke pohon yang lain sembari melihat anak-anak kecil di bawah umur sedang mengais rizki di sepanjang jalan. Nenek-kakek sedang tidur tak nyenyak di emperan toko perkotaan. Malam dan siang pun sama, hanya memikirkan bagaimana bisa makan-minum, tak lebih. “Apa negara mereka dan kenapa mereka dibiarkan begitu saja?<br />
Inikah pertanda manusia modern yang disebut Socrates sebagai animal rasional telah berganti rupa dan perilaku sebagai animal dalam makna yang sesungguhnya.<br />
Mari kita berjalan-jalan di sekujur rel kereta api, betapa banyak rumah kumuh dan berapa kepala keluarga yang mati-matian berusaha bertahan hidup dengan mengais rizki di balik gundukan sampah, tetapi apa yang mereka dapatkan, kecuali penggusuran yang selalu mengahantui di setiap saat. Siapa mereka, bagian dari apa mereka? Menonton ketidakberesan hidup di ngeri ini ini layaknya tontotan serial sinetron di televisi.<br />
<strong><br />
Hidup Tanpa Negara</strong><br />
Ada dua realitas yang saling bertolak belakang, di satu sisi rakyat sedang dalam keadaan susah, sementara elit politik masih saja bertengkar demi kursi-meja kekuasan. Hal ini menandakan sebagian masyarakat kita, terutama menengah ke bawah sedang hidup tanpa negara.<br />
Apa negara mereka? Mereka tidak memiliki negara, tetapi mempunyai bangsa yang bernama Indonesia. Seberat apapun kehidupan mereka, masih saja ada harapan, cita-cita tentang hari ini, esok dan yang akan datang. Bangsa mereka jauh lebih tua dan kokoh dari negara yang berbendera merah putih itu.<br />
Di setiap hari kemerdekaan, mereka tetap menyempatkan diri untuk menghormati jasa-jasa pahlawan. Di setiap hari besar agama-agama, mereka tetap saling menghormati. Di setiap apa pun mereka tetap hidup bebarengan, karena memang hidup berbangsa jauh lebih baik dari hidup bernegera yang di dalamnya hanya menguntungkan kelas sosial yang memiliki relasi dengan kekuasaan.<br />
Buktinya, di negeri ini kesejahteraan hayalah mimpi di siang bolong. Lapangan kerja kian sempit. Ongkos hidup melambung tinggi. Kesehatan dan pendidikan sulit didapati. Keamanan harus dibeli dengan harga mahal. Pada akhirnya, segala sesuatu adalah pasar, sedangkan sesuatu yang bukan pasar tidak pernah mendapat perhatian.<br />
Ada sebuah ungkapan di kalangan masyarakat akar rumput yang beredar. Apa memang negeri ini hanya berisi segelintir orang yang bisa menjadi jawara di setiap ‘perlombaan’. Perlombaan korupsi, kolusi dan nepotisme? Dan masih banyak daftar perlombaan yang dimenangi oleh mereka yang di negeri ini disebut sebagai putra bangsa.</p>
<p style="text-align:justify;">Amanat daripada Pesta Rakyat<br />
Seminggu yang lalu (9/4) pesta rakyat (katanya) telah dilakukan. Di setiap bilik suara, semua orang, tua-muda, laki-perempuan, dengan rela tanpa paksa antri untuk mencontreng, terlepas dari apa pilihan politik mereka, hanya satu tujuan dari itu semua: Ayo kita berangkat bersama-sama menuju pintu kesejahteraan. Bahkan, di balik pragmatisme pemilih, mereka masih menaruh harap pada hari esok yang cerah.<br />
Elite partai harusnya mengetahui hal ini bahwa itu semua cerminan dari paradigma bebarengan masyarakat indoensia demi sebuah cita-cita tentang idealnya sebuah negara-bangsa.<br />
Berpuluh tahun rakyat, terutama masyarakat akar rumput (miskin) tetaplah mayoritas dari warga negeri ini. Amanat konstitusi terasa biasa untuk dilanggar oleh penguasa di negeri ini. Buktinya, angka kemiskinan melambung tinggi, tapi jumlah orang kaya di negeri ini juga kian bertambah. Negeri apa ini?<br />
Adalah anekdot yang berkembang saat ini bahwa kemisinan memang diakui menurun drastis, yakni dari nenek moyang sampai puluhan keturunan setelahnya tetaplah bertenggang di bawah garis kemiskinan.<br />
Apa salah rakyat di balik ini semua. Kekerasan, pencurian harta negara, nepotisme, degradasi moral adalah potret buram negeri ibu pertiwi ini.<br />
Apa pesan dari pemilihan umum, secara substansi keikutsertaan masyarakat untuk menentukan masa depan bersama, dengan cara menentukan wakil-wakil rakyat yang dinggap mampu menjadi wakil mereka di setiap pengambilan kebijakan publik (public policy).<br />
Pemilihan Umum pada era reformasi sudah tiga kali diadakan, tetapi kehidupan di negeri ini tak kunjung berubah. Kalau pemilihan kali ini juga masih melahirkan pemimpin yang busuk, maka lambat laun keterpurukan ini bakal menjadi sebuah takdir yang sulit digugat.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Negeri Kenduri, (sebuah impian)</strong><br />
Di balik ratap tangis negeri ini, selalu ada peluang atau harapan untuk memperbaiki. Sebagai bangsa, Indonesia telah lama lahir dan selalu siap sedia menerjang segala macam badai persoalan. Apapun yang menggangu perjalanan bangsa tetap bisa dilewati. Pada akhirnya, rakyatlah penguasanya. Kalaupun ada pemimpin, hanya sebagai pembantu umum, tak lebih.<br />
Sebagai lambang Negara, burung Garuda nan gagah berani dapat kita lihat, betapa dua kakinya mencengkram kuat pada norma-norma dasar yang menjadi pegangan dasar negeri ini.<br />
Rakyat memimpikan negeri ini (Indonesia) bisa menjadi Negeri Kenduri, sebuah negeri yang bisa menampung semua lapisan masyarakat, segala macam kepentingan yang berlandaskan pada satu kepentingan bersama. Sepi dari diskriminasi dalam segala macam modus. Kalau pun ada masalah, terselesaikan oleh pelajaran kebangsaan yang mengajarkan bahwa kehidupan bersama di negeri ini harus dinomorsatukan. Di dalam negeri ini hanya ada cawa tanda, sesekali meneteskan air mata sebagai penanda kehidupan itu sungguh berimbang. Kebahagian dan kesedihan adalah dua kejadian alamiah yang tidak bisa dielak, namun bisa diatur agar terarah pada satu tujuan bersama: kesejahteraan dan kamakmuran rakyat.<br />
Meminjam pendapat Mohamad Sobary dalam epilog buku otobiografi Emha Ainun Najib (Cak Nun), bila ada-memang ada saja-keretakan kecil antara hati dengan hati, maka melalui kenduri persatuan diperketat. Dengan suapan nasi, bunyi dan isi doa’, dan dengan saling berjabat tangan yang tulus, yang retak itu ditambal dan menjadi utuh kembali. Sungguh lah indah hidup di negeri ini. Tidaklah mustahil meraih negeri semacam ini.<br />
Saat ini, tugas negara-bangsa adalah sudah saatnya para pemimpin atau wakil-wakil rakyat duduk dan berdiri bersama untuk memusyawarahkan bagaimana meraih Negeri Kenduri. Sebuah negeri yang melahirkan kebijakan-kebijakan pro-rakyat.<br />
Pada akhirnya, pemilihan umum (legislatif-eksekutif) tahun ini adalah awal mulanya janji disematkan pada pemimpin yang diamanatkan untuk membawa kapal Indonesia menuju negeri kenduri, sebuah negeri yang jauh dari ratap tangis.<br />
Oleh: Joemardi Poetra. (16/4/9) sumber:http://joemardipoetra.co.cc</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yoenea.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yoenea.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yoenea.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yoenea.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yoenea.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yoenea.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yoenea.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yoenea.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yoenea.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yoenea.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yoenea.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yoenea.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yoenea.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yoenea.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yoenea.wordpress.com&amp;blog=7441631&amp;post=17&amp;subd=yoenea&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yoenea.wordpress.com/2009/04/27/negeri-yang-penuh-tangis-bangsa-yang-penuh-harap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/af9048c914f5f00c671227f2f4c34a9c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yoenea</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>UN, Doa Bersama, dan Ikrar Kejujuran</title>
		<link>http://yoenea.wordpress.com/2009/04/21/un-doa-bersama-dan-ikrar-kejujuran/</link>
		<comments>http://yoenea.wordpress.com/2009/04/21/un-doa-bersama-dan-ikrar-kejujuran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Apr 2009 07:32:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yoenea</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yoenea.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Gelar doa bersama, pelatihan mental, sampai ikrar kejujuran yang digelar di berbagai sekolah, baik swasta maupun negeri, mewarnai fase-fase akhir menjelang detik-detik ujian nasional (Kompas, 17/4). Fenomena ini menunjukkan betapa dunia pendidikan telah dikelola dengan visi pendidikan dangkal dan spiritualitas terpecah, lebih suka mencari jalan pintas, serta latah dengan gerakan massa yang dipolitisasi seperti layaknya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yoenea.wordpress.com&amp;blog=7441631&amp;post=3&amp;subd=yoenea&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><img class="alignright size-full wp-image-20" title="images" src="http://yoenea.files.wordpress.com/2009/04/images.jpeg?w=470" alt="images"   />Gelar doa bersama, pelatihan mental, sampai ikrar kejujuran yang digelar di berbagai sekolah, baik swasta maupun negeri, mewarnai fase-fase akhir menjelang detik-detik ujian nasional (Kompas, 17/4).</p>
<p style="text-align:justify;">Fenomena ini menunjukkan betapa dunia pendidikan telah dikelola dengan visi pendidikan dangkal dan spiritualitas terpecah, lebih suka mencari jalan pintas, serta latah dengan gerakan massa yang dipolitisasi seperti layaknya ikrar kampanye damai partai politik menjelang pemilu.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengelola dunia pendidikan tidak sama dengan mengelola organisasi massa, yang di tangan para politisi sekadar alat pemenangan untuk memenangi kepentingan sesaat. Secara natural, kekuatan massa gampang dimanipulasi karena tangan dan kaki lebih banyak jumlahnya daripada otak yang berpikir.</p>
<p style="text-align:justify;">Padahal, pendidikan merupakan kinerja harian rutin, bukan momental yang harus memperlakukan individu siswa sebagai pribadi, bukan sebagai kerumunan massa, di mana sistem yang dibangun mestinya mampu menjadi dasar bertindak dalam praksis harian sehingga kultur edukatif benar-benar hadir dan menjiwai seluruh proses pendidikan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Visi dangkal</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Mengandalkan doa bersama, pelatihan mental mendadak, dan ikrar kejujuran menjelang UN juga menunjukkan kedangkalan visi para pengelola lembaga pendidikan. Pembenaran perilaku ini sering ditambahi argumen, mereka sudah membuat persiapan intensif dengan mengadakan pelatihan soal-soal, bahkan jika perlu mengundang lembaga bimbingan belajar masuk sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah metode jalan pintas yang paling sering dilakukan di sekolah kita. Kedangkalan itu terjadi karena pendidikan hanya mengutamakan target akhir lulus UN, memperalat siswa demi kepentingan dan nama baik sekolah dengan cara membuat siswa hanya belajar secara intensif menjelang UN, sementara dalam praksis harian di sekolah selama tiga tahun, siswa tidak pernah diajarkan apa artinya bertekun dan belajar serius.</p>
<p style="text-align:justify;">Menumbuhkan kesungguhan, daya tahan, dan motivasi internal dalam belajar sering terlewatkan pada fase ini karena pendidik dan siswa berpikir, ujian masih jauh.</p>
<p style="text-align:justify;">Dunia pendidikan bukan dunia tukang sulap yang bisa membuat hal-hal aneh dalam sekejap. Belajar membutuhkan ketekunan, konsistensi, serta keseriusan dari pendidik dan siswa. Kesungguhan ini kian terbantu dengan menciptakan iklim harian dan kultur sekolah yang mendukung siswa gemar belajar tanpa dipaksa atau diancam perolehan nilai. Visi pendidikan itu seharusnya bersifat konsisten, konkret, dan mengembangkan pendampingan individu siswa secara intensif sejak mereka memasuki tahun ajaran baru sampai menghadapi UN.</p>
<p style="text-align:justify;">Mentalitas jalan pintas bukan visi pendidikan yang adekuat, yang mampu menyiapkan generasi muda menjadi individu yang konsisten, tahan banting, serta mengerti makna pembelajaran bagi hidupnya sendiri dan bagi perkembangan masyarakat.</p>
<p style="text-align:justify;">Model jalan pintas juga bertentangan dengan logika pendidikan karena untuk berubah membutuhkan waktu. Pendidikan akan hancur jika diisi pendidik yang memiliki visi dangkal yang tidak sabar dan cenderung ingin melihat hasil akhir secara instan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Spiritualitas terpecah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Model gelar doa bersama menjelang UN, meski baik, tetap menunjukkan sebuah kerohanian dangkal yang coba diajarkan kepada para murid, seolah doa-doa itu baru dibutuhkan saat mau menghadapi UN.</p>
<p style="text-align:justify;">Tentu tidak ada yang salah dengan mohon doa restu dari Tuhan agar dapat melaksanakan UN dengan baik. Namun, kerohanian sejati dalam pendidikan seharusnya berakar pada kultur sekolah yang mampu menghormati keyakinan iman individu lain sebagai pilihan bebas, menghormati keragamanan. Lebih penting dari itu, lingkungan sekolah mestinya mampu membangun kultur yang menghormati keyakinan individu karena individu itu adalah ciptaan yang bernilai, berharga, dan bermartabat dihadapan Sang Pencipta.</p>
<p style="text-align:justify;">Kebencian terhadap penganut agama lain yang menonjol dalam masyarakat kita bisa jadi karena sekolah lebih mengajarkan permusuhan, menekankan perbedaan sebagai batas daripada sebagai lahan untuk bekerja sama dalam membangun masyarakat. Lebih parah dari itu, kerohanian dalam pendidikan bisa diredusir sekadar ritualisme ibadah dan tata cara berdoa yang tidak merengkuh persoalan lebih mendalam dalam konteks komunikasi antarindividu yang berbeda agama di masyarakat. Dengan demikian, perilaku ibadah yang sebenarnya bersifat membangun masyarakat malah menyemai ketidakadilan, permusuhan, dan perpecahan daripada menyumbangkan penghormatan dan perdamaian.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Latahisme kacangan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Membuat ikrar kejujuran juga menunjukkan gejala latahisme kacangan dalam pendidikan. Kita menganggap dunia pendidikan seperti panggung politik, di mana konflik, perseteruan, dan persoalan yang ada akan bisa diatasi dengan jalan membuat ikrar bersama. Latahisme demikian ini memalukan. Para pendidik perlu menyadari, model ikrar seperti ini tidak akan mengubah banyak hal jika praksis harian dalam sekolah dan kultur sekolah yang kita bangun tidak memiliki visi pembentukan karakter yang kokoh, di mana praksis kejujuran dapat dilihat dalam ritme hidup harian di lingkungan sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-3"></span>Ikrar kejujuran tidak akan otomatis menghilangkan kultur kebohongan, ketidakjujuran, dan penyelewengan yang telah meracuni dunia pendidikan kita. Para pendidik semestinya kembali berpaling pada nuraninya dan lebih baik bersama-sama membongkar kultur dalam pendidikan kita yang tidak adil dan tidak jujur dengan mengevaluasi kinerja harian di sekolah, dengan melihat apakah tata peraturan dan sistem yang kita buat untuk menanamkan nilai kejujuran dan keadilan ini telah hadir dalam lembaga pendidikan kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai pendidik yang bertanggung jawab terhadap nasib bangsa ini di masa depan, pengambilan jalan pintas, promosi spiritualitas terpecah, dan semangat menghidupi visi dangkal ini harus dijauhkan dari lembaga pendidikan kita. Demikian juga mencontoh perilaku politisi yang memanfaatkan massa demi kepentingan politiknya dengan membuat ikrar bersama, harus dihilangkan dari pendidikan kita. Ikrar itu menjadi tak bermakna bagi siswa dan pendidik jika kultur sekolah tetap terbangun melalui sistem pendidikan yang mempromosikan kegemaran mencontek, berbohong, tidak jujur, dan manipulatif.</p>
<p style="text-align:justify;">Doni Koesoema A Alumnus Boston College Lynch School of Education, Boston, Tinggal di Jakarta</p>
<p style="text-align:justify;">Senin, 20 April 2009 | 03:12 WIB</p>
<p style="text-align:justify;">Sumber: KOMPAS</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yoenea.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yoenea.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yoenea.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yoenea.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yoenea.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yoenea.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yoenea.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yoenea.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yoenea.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yoenea.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yoenea.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yoenea.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yoenea.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yoenea.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yoenea.wordpress.com&amp;blog=7441631&amp;post=3&amp;subd=yoenea&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yoenea.wordpress.com/2009/04/21/un-doa-bersama-dan-ikrar-kejujuran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/af9048c914f5f00c671227f2f4c34a9c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yoenea</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yoenea.files.wordpress.com/2009/04/images.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
